Semalam Bersama Bule Permai

JARUM jam baru menunjuk angka tujuh lewat sedikit. Tapi suasana cafe di sekitaran Batu 5, Tanjungpinang, yang biasa ramai tampak lengang.

Hanya beberapa remaja terlihat sibuk dengan laptop. Di belakangnya duduk dua orang ibu muda asyik pencet-pencet tombol handphone.

Nun di ujung, tak jauh dari meja Medako, seorang pria bicara serius. “Dia cuma teman. Aku berani sumpah,” katanya.

Perempuan di depannya bengong. Segelas jus alpukat disedotnya berkali-kali hingga nyaris tandas.

Di luar, hujan sedari sore menyisakan gerimis. Oya, ini malam Senin, 8 Mei 2018.

Suasana membosankan ini seketika “hidup” manakala datang orang asing menghampiri Medako.

“Boleh saya duduk di sini,” katanya seraya melempar senyum.

Nona ini, sumpah, cantik bukan main. Penampilannya juga nyaman dipandang mata. Berkaus putih ketat dipadu jins hitam sama ketat. Kakinya dibungkus sepatu high heels motif polkadot. Bibirnya merah merekah. Dari pipinya terbit rona jingga mirip tomat mengkal.

Naoko, namanya. Gadis 28 tahun blesteran Jepang-Amerika ini singgah di Tanjungpinang sepulang liburan dari Lagoi. Sekadar jalan-jalan.

Kepada pelayan cafe dia pesan jus melon, seporsi ayam goreng dan kentang.

“Sampean naik apa tadi?” kata Medako membuka obrolan.

“Gojek.”

Budaya dan kriminal topik obrolan yang menarik perhatian Naoko. Bahkan soal kriminal, bule yang mengaku masih lajang ini bertanya banyak: seberapa besar tingkat kriminalitas di kota ini; bentuk kejahatan apa saja yang menonjol; apa program pihak berwajib meminimalisir…

Naoko sumringah mendengar jawab semua pertanyannya. Tiga kali dia mengacungkan jempol. “Owh, you are a journalist, huh. Greats. (Oh, kamu wartawan ya. Mantap).”

Rupanya malam ini Naoko mencari teman buat menemaninya kelililing kota. “Kamu bisa menemani saya?”

Tanpa berpikir panjang, Medako mengangguk cepat: “Go ahead.”

Naoko tampak riang. Hasratnya menyusuri sudut-sudut Kota Tanjungpinang seakan tak tertahankan. Syukurlah bule yang bisa berbahasa Indonesia ini senang dibonceng motor.

“Tonight will be a long night (malam ini akan jadi malam yang panjang). Let’s go,” ujar dia.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi pujasera Akau, Potong Lembu. Naoko tak makan di sana, sekadar foto dan bertanya-tanya sedikit kepada sejumlah pedagang. Dirangkumnya dalam catatan kecil bertulis bahasa Inggris. Hal yang sama dibuatnya di Ocean Marina, Jalan Gudang Minyak.

Juga beberapa pujasera lain.

Rute selanjutnya Ramayana. Di sana Naoko membeli kaus, celana dan beberapa helai pakaian dalam. Katanya buat kenang-kenangan.

Selesai itu ke Melayu Square. Tidak hanya foto dan tanya-tanya, kali ini ia makan. Naoko suka otak-otak. Dua porsi penganan khas Melayu ini dimakan habis.

Acara kemudian dilanjutkan duduk santai di Laman Boenda. Seraya menatap laut Naoko mencicipi bandrek.

Dua jam duduk di Tepi Laut ia habiskan bercerita tentang dirinya. Tentang bapaknya yang Jepang dan ibunya yang Amerika. Sang bapak dosen di sebuah universitas. Ibunya pegawai kantor pajak. Kini ia tinggal terpisah. Menetap di Cleveland, Ohio. Mengurus salon.

Ke Lagoi ia datang bersama empat orang sejawatnya. Teman-teman Naoko malam ini memilih keliling lokasi lain. “Saya sudah beberapa kali ke Tanjungpinang ini,” katanya.

Setiap liburan tiba, dipastikan Naoko berkeliling Indonesia. Ia memilih negeri ini karena tertarik dengan panorama alam dan kehidupan warga yang dinilainya unik: sederhana tapi bahagia.

Satu lagi. “Orang di sini ramah kepada pendatang. Tak peduli dari mana ia berasal,” ujar Naoko.

Dia sudah mengunjungi Gunung Bromo di Jawa Timur, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Bali, dan beberapa daerah wisata di seantero Nusantara. Ditunjukkannya foto koleksi wisata di mana dia berkunjung.

Tak terasa jarum jam menunjuk angka satu. Pengunjung Laman Boenda satu persatu berangsur pergi. Dingin malam mulai menusuk tulang.

“Bagaimana kalau kita ngobrol di tempat saya menginap?” kata Naoko tiba-tiba.

“Mantap!” jawab Medako.

Di sepanjang jalan Naoko menyanyikan lagu gembira berbahasa Inggris. Sesekali ia meliuk-liukkan tangan.

“Rasanya tidak ada lagi masa lalu, tidak ada lagi masa depan. Hanya malam ini,” begitu artinya.

“Mari masuk. Saya sendiri,” ujar Naoko setiba di penginapan sekitaran Batu 12.

Obrolan pun berlanjut. Tentang banyak hal. Nona permai ini menyuguhkan kopi susu dan camilan lezat.

Naoko terpingkal-pingkal ketika ditanya ninja, samurai dan yakuzha. “Ini jaman modern,” kata dia. “Lagipula sejak umur 5 tahun saya tidak tinggal di Jepang lagi.”

Jarum jam seakan berputar cepat. Tak dinyana kini menunjuk angka empat. Medako harus mohon diri. Naoko menjulurkan tas barang belanjaan.

“Jangan ditolak. Menyenangkan bersama kamu,” katanya.

Terdapat rupa-rupa barang dalam tas tadi: pakaian, beberapa alat elektronik, foto dan diary.

Pada halaman pertama diary itu tertulis: Pekan ke dua setelah purnama aku kembali.

Reporter: Y.Sudirman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here